Artikel TerbaruSelamat Datang di Putra Martapura

Muhammad Azka Habibi Bin Muhammad Firdaus Habibi

Nama : Muhammad Azka Habibi
Jenis Kelamin : Laki-Laki, Lahir Pada Malam Jum'at Tanggal 21 Juli 2016
di Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura

SEMOGA MENJADI ANAK YANG SOLEH, MENJADI PENYEJUK HATI KEDUA ORANGTUANYA, CINTA DENGAN RASULNYA DAN SELALU TAQWA KEPADA ALLAH SWT. AAAMIIIN YA ALLAH
Muhammad Azka Habibi


Tasmiyah dengan Abah Haji (KH Zuhdiannor) di Masji Jami' Sungai Jingah Banjarmasin
Taman Labirin Pemprov Kal-Sel
Baru Lahir, Malam Jumat Jam 11.45 Tanggal 21 Juli 2016
Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura
Azka Usia 2 Minggu
Di Masjid Al Karomah Martapura








Tambak Haji Midan Sungai Sipai-Tungkaran Martapura


Tambak H. Midan Terletak di Desa Sungai Sipai-Tungkaran Martapura Kabupaten Banjar. Menjadi tempat pilihan bagi keluarga untuk bersantai di akhir pekan, terutama bagi para pemancing mania yang merindukan tarikan strike dari ikan-ikan besar. Setiap hari tambak ini ramai dikunjungi oleh para pemancing dari pemancing pemula s/d professional, baik yang berdomisili di Martapur, Banjarbaru, Banjarmasin dan sekitarnya. Lahan yang sangat luas membuat para pemancing dapat dengan bebas menentukan spot yang diinginkan untuk memancing. Dengan hanya membayar Rp. 2000,- anda bisa dengan bebas memancing di sini, namun ingat jika ingin membawa pulang ikan yang dipancing terlebih dahulu ditimbang. Ikan di tambak ini beraneka ragam mulai dari ikan nila, mas, haruan/gabus, patin, bawal dan sebagainya dengan ukuran yang beraneka ragam pula. Para pemancing bebas berkreasi dengan joran, kenur kail maupun umpan yang digunakannya, ada yang menggunakan pelampung, ada yang tidak menggunakan pelampung, ada yag memakai umpan pelet dengan campuran gabin/pakan tenggelam, buah, binatang kecil, maupun umpat ikan-ikanan plastik yang biasanya tersdia di toko alat pancing. Para kru program Mata Pancing MNC TV juga pernah datang kesini untuk meliput sensasi strike di Tambak H. Midan. Bagi yang hanya ingin makan-makan bersama dengan keluarga juga disediakan tempat makan, anda cukup memesan lauk yang diinginkan, tentunya ikan di sini harganya dihitung per kilo. Mungkin tambak ini bisa menjadi pilihan akhir pekan anda yang berada di Maartapura dan sekitarnya. Salam mancing mania dan MA’ NYOOOOS!!!












Kuserahkan putriku padamu (Renungan Untuk Para Suami)



Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.

Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.

Dan waktupun berlalu...

Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.

Tapi,...

Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.

Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.

Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.

Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.

Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.

Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.

Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.

Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.

Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.

Jika Anakmu....

  1. Jika anakmu BERBOHONG Itu karena engkau MENGHUKUMNYA terlalu BERAT. 
  2. Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI Itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT. 
  3. Jika anakmu KURANG BERBICARA Itu karena engkau TDK MENGAJAKNYA BICARA. 
  4. Jika anakmu MENCURI Itu karena engkau TDK MENGAJARNYA MEMBERI. 
  5. Jika anakmu PENGECUT Itu karena engkau selalu MEMBELANYA. 
  6. Jika anakmu TiDAK MENGHARGAI ORG LAIN Itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS kepadanya. 
  7. Jika anakmu suka MARAH² Itu karena engkau KURANG MEMUJINYA. 
  8. Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS Itu karena engkau TIDAK BERBAGI dengannya. 
  9. Jika anakmu SUKA MENGASARI org lain Itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN terhadapnya. 
  10. Jika anakmu LEMAH Itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA. 
  11. Jika anakmu CEMBURU Itu karena engkau MENELANTARKANNYA. 
  12. Jika anakmu MENGGANGGUMU Itu karena engkau KURANG MENCIUM atau MEMELUKNYA. 
  13. Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU Itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya. 
  14. Jika anakmu TERTUTUP Itu karena engkau TERLALU SIBUK.

Mengenang Berpulangnya Abah Guru (In Memoriam)

Berita duka itu akhirnya datang juga. Rabu, 10 Agustus 2005, subuh dinihari selepas pukul 05.00 Wita, Al ‘Aalimul ‘Allaamah Al ’Aarif Billaah Maulana Syekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani berpulang ke rahmatullah. Ribuan ummat segera berdatangan memenuhi sekitar rumah duka di Kompleks Ar Raudhah Sekumpul Martapura. Mushalla dan kawasan Kompleks tak sanggup menampung membludaknya warga masyarakat yang mencintai Belaiau. Semuanya berduka. Kesedihan menggelayut dalam wajah-wajah mereka. Deraian air mata tidak tertahankan.


Beberapa jam sebelum wafat, warga Sekumpul dan sekitarnya sempat membesuk Guru lewat pintu belakang kediaman. Antrean panjang ini ditutup menjelang tengah malam, dan warga yang tidak bisa bertakziah dimintakan mendoakan sang guru di tempat masing-masing. Kondisi kesehatan Guru berada pada titik kritis. Didampingi seluruh keluarga dekat, termasuk istri, Hj. Juwairiah, Hj. Laila dan Hj. Siti Noor Jannah, serta putra, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali, Wali Allah itu menghadap Sang Khalik. Menjelang pukul 07.00 Wita, di ruang tengah rumah, dimulai shalat jenazah yang diimami secara bergantian oleh sejumlah ulama.

Sesekali kerabat dekat Guru memberikan ciuman terakhir kepada sang ulama. Pukul 12.30, jenazah Guru Sekumpul dihantar ke pemakaman yang berada di depan Mushalla ArRaudhah atau di bagian depan samping kiri kediaman almarhum. Kala keranda dikeluarkan dari kamar, gemuruh tahlil dan tahmid mengumandang, disertai dengan suara isak tangis di sana-sini. Lantunan tahlil itu terasa pilu, menyayat hati dan membuat bulu kuduk berdiri. Suara itu terus bergema terlebih saat keranda jenazah melewati pintu utama kediaman menuju mushalla.

Ribuan jamaah berebut membawa keranda hingga selendang penutup keranda nyaris lepas. Di mushalla, shalat jenazah berpuluh-puluh kali digelar. Menjelang Ashar keranda dibawa ke pemakaman yang jaraknya cuma beberapa meter dari mihrab. Tepat azan Ashar dan diiringi lantunan ayat Al Qur’an, jasad sang ulama diturunkan ke liang lahad. Sesuai wasiat Guru, yang memimpin pembacaan talqin adalah (alm) Al Alimul Fadhil KH Abdus Syukur.

Hari-hari ini, kita kembali terkenang dengan ceramah sang ulama dalam beberapa kali pengajian. Banyak di antaranya yang bertutur tentang kematian, wasiat kehidupan, walau diungkapkan Guru Sekumpul secara bercanda.“Kalau aku kena meninggal dunia, kantor dan bank pasti tutup. Sekolah dan madrasah juga umpat libur….” Kata Guru. Di saat banyak yang bingung, sang ulama menyambung kalimat itu hingga membuat jamaah tertawa, “Asal aku meninggalnya hari Minggu…”Canda Guru itu setidaknya terbukti.

Meski wafat bukan hari Ahad, suasana di Martapura dan sekitarnya mengamini apa yang dulu diungkapkan Guru. Sekolah banyak yang diliburkan, kantor dan instansi pemerintah relatif tidak berfungsi walau tampak buka, dan toko-toko di Pasar Martapura seperti tidak berpenghuni. Semuanya larut dalam kedukaan. Ratusan ribu jamaah yang menghadiri pemakaman menciptakan rekortersendiri dalam sejarah di Kalsel.

Dari mantan Wapres Hamzah Haz, Gubernur, anggota DPR, hingga rakyat dan ummat datang melayat. Jalan-jalan macet dan aktivitas warga terhenti. Semuanya ingin memberikan penghormatan terakhir. Imam shalat pun tak mampu menahan deraian airmata kala melafalkan doa. Isak tangis tiada terbendung.

Media massa daerah hingga nasional memberitakan kabar duka ini, termasuk koran besar seperti Kompas dan Jawa Pos. Bahkan, Rabu dinihari itu juga, Banjarmasin Post mencetak ulang halaman depan koran yang berisi berita wafatnya Guru Sekumpul.

Sesungguhnya akhir Juli hingga awal Agustus 2005, kesehatan Guru Sekumpul menjadi perbincangan masyarakat Kalsel. Hampir setiap hari sejumlah media cetak lokal memberitakan kondisi sang ulama yang setiap dua kali sepekan menjalani cuci darah. Sejak awal-awal 2005, pengajian juga libur panjang. Puncak semua itu, Jum’at, 29 Juli 2005, diantar (Gubernur) Kalsel H. RudyAriffin, Guru Sekumpul dibawa ke Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura.

Ditangani oleh Dr Gordon Ku, spesialis penyakit dalam, kondisi kesehatan sang ulama terus membaik, namun harus terus menjalani perawatan. Selagi masih di luar negeri, masyarakat Kalsel heboh oleh beredarnya kabar wafatnya Guru. Sejumlah media radio malah sempat memberitakannya. Kabar itu sendiri dibantah oleh orang dekat Guru, termasuk Rudy Ariffin yang terus memantau perkembangan kesehatan Guru.

Kepada Rudy, Guru mengaku ingin sekali cepat pulang ke Martapura. Apalagi, Rudy Ariffin setelah itu lebih dulu pulang ke Kalsel untuk dilantik sebagai Gubernur. “Bila ikam bulik, aku umpat bulik jua Di ai,” kata Guru kepada Rudy.

Sang ulama memang sangat dekat dengan Rudy hingga seakan merasa sendirian disana tanpa Rudy. Atas advis tim dokter di RS, Guru diminta tetap dirawat di lantai 3 ruang khusus Critical Unit. Setelah lebih sebelas hari menjalani perawatan, Guru pun diperbolehkan pulang.

Selasa 9 Agustus, pukul 20.30, pesawat carter F-28 yang membawa sang Aulia mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Tepat pukul21:15, iring-iringan mobil yang membawa Guru tiba di Kompleks Sekumpul. Mobil DA 9596 ZG yang membawa Guru langsung masuk kedalam garasi, di bagian belakang kediaman.Guru kembali berjumpa dengan keluarga dan kota kelahiran yang sangat dicintai dan dirindukannya. Namun, ternyata Allah SWT lebih mencintai dan merindukan sang ulama. Hanya dalam hitungan jam berada di tengah keluarga, Guru Sekumpul dipanggil untuk selama-lamanya.Innaa lillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun

Kutipan dari buku "Bertamu Ke Sekumpul"
Oleh : H. Ahmad Rosyady Chalidy, S.Sos.
Edisi : Cetakan Ke-4

Tesisku Oh Tesisku, Kapan Selesainya!!!


Ini dia kampus kesayanganku, sejak masuk bangku kuliah strata 1 (S1), hingga melanjutkan ke pascasarjana. IAIN Antasi Banjarmasin Kalimantan Selatan. Pada tahun 2005 ku memasuki kampus ini dan akhirnya berhasil menamatkan strata 1 pada tahun 2010. Pada tahun 2010 itulh aku langsung melanjutkan pendidikan di Pascasarjana pada kampus yang sama dengan Prodi Pendidikan Islam, Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam.

Gedung Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin
Pada Akhir 2012 aku sudah mengajukan judul untuk penelitian akhirku, dan alhamdulillah akhirnya diterima dengan judul "Pelaksanaan Manajemen Sarana dan Prasarana pada Madrasah Negeri di Kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar", yang selanjutnya diseminarkan. Setelah diseminarkan dengan adanya masukan dari dosen pembimbing dan kawan-kawan yang seangkatan pada seminar itu, maka judul yang disarankan ada perubahan yakni "Manajemen Sarana dan Prasarana pada Madrasah Negeri Model di Kabupaten Banjar", sekarang langkah selanjutnya hanya tinggal merevisi dan konsultasi beberapa kali ke dosen pembimbing, tapi selama ini hanya sedikit revisi yang dikerjakan karena pekerjaan kantor yang tak bisa ditinggalkan, apa lagi waktu kerjanya dari jam 08.00-16.00 WITA, sulit rasanya kebanyakan minta ijin di tempat kerja untuk mencari bahan tugas akhir. Sampai rumah ada si kecil yang nunggu, kalo malam kadang juga si kecil ikut begadang, pekerjaan tesis jadi terlewatkan terus. Mudah-mudahan diberikan kemudahan, keistiqomahan semangat dan motivasi dalam diri sendiri agar tugas akhir ini bisa selesai secepat mungkin, amin.

Saat ini dari 22 teman 1 ruangan yang juga 1 angkatan, sudah ada 2 orang teman yang diwisuda, beberapa teman lainnya sudah mengajukan permohonan sidang tesis, dan yang lainnya sudah terjun ke lapangan untuk melakukan penelitian. kalau sudah begini jadi termotivasi juga untuk segera menyelesaikan Tugas Akhir. tapi yang jelas selamat buat teman-teman yang sudah sarjana, do'akan biar aku dan teman-teman yang lain bisa menyusul secepat mungkin.

Beberapa hari yang lalu sih sudah survei ke lokasi penelitian, kebetulan di Kabupaten Banjar ada 3 Madrasah Negeri Model, yakni Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Martapura, Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Darussalam Martapura dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambak Sirang Gambut. jadi penelitian fokus pada 3 sekolah tersebut, sekarang tinggal menyusun bab I sampai bab III, dan dikonsultasikan ke dosen pembimbing, baru turun ke TKP untuk melakukan penelitian. pekerjaannya harus dimulai dari sekarang, sedikit demi sedikit yang jelas tiap harinya harus ada kemajuan nih si tugas akhir. kata orang tidak ada seribu langkah kalau tidak ada langkah pertama. kepada agan-agan mohon motivasinya ya biar aku tetap semangat menyelesaikan tugas akhirnya. jangan lupa juga mohon do'anya. heee..

Persiapan Haul Ke-8 Abah Guru (KH. Zaini bin Abdul Ghani) Sekumpul Martapura

Warga sekumpul dan para murid Guru Sekumpul telah melakukan persiapan untuk haul Abah Guru (KH. Zaini bin Abdul Ghani) Sekumpul Martapura yang rencananya dilaksanakan pada hari minggu, malam senin, tanggal 12 Mei 2013 ini. Dimulai dari gotong-royong membersikan lingkungan, membangun tenda untuk jama’ah yang datang, menyiapkan lahan parkir kendaraan, menyiapkan tong-tong air dan tempat wudhu.

Kemudian memasang lampu penerangan, memasang pengeras suara, menyiapkan dapur untuk memasak makanan, menyiapkan bahan-bahan yang akan disajikan. Hingga  meracik bumbu, mengolah daging, memasak nasi, membuat kotak nas, hingga pada minggu paginya memasukkan nasi dan lauk pauknya kedalam kotak nasii/ nasi bungkus.

Masing-masing RT membagi tugas untuk warganya, siapa yang mengatur parkir, siapa yang menjadi keamanan, siapa yang membagi nasi kotak saat acara, dll.

Di balik puluhan ribu ja’maah yang datang nantinya di acara haul yang ke 8 abah guru sekumpul (KH. Zaini bin Abdul Ghani), tersembunyi tetes keringat warga sekumpul serta para santri yang melayani tamu dengan tulus dan ikhlas. Berikut dokumentasi yang dari grup facebook pecinta abah guru sekumpul:




























 
Support : Copyright © 2015. Putra Martapura Blog - All Rights Reserved
Proudly powered by M. Firdaus Habibi
.comment-content a {display: none;} -->